Diarsipkan di bawah: catatan hati kami
cinta, telah mengajarkan kami akan banyak hal, bagaimana cinta mengajari kami dicintai dan mencintai, menghargai dan dihargai, menghormati dan dihormati, dan cinta mengajari kami akan cinta itu sendiri,
meski cinta ini belum mendewasa, meski cinta ini belum lagi menjelma menjadi cinta yg meninggi ke langit sana, meski cinta ini belum utuh dan sempurna,
namun, cinta tak pula memberi kami rupa akan tawa namun juga luka, karena itulah tempa dewasa
dan cinta telah mengantarkan kami pada sepotong perjalanan ini, sepotong perjalanan untuk belajar …
sebulan sebelum hampir genap setahun
Diarsipkan di bawah: markas hatiQ
biadadari senja, semoga saya tak berlebihan menamainya seperti itu, hanya saya cuplik dari kata2 Sakti Wibowo. hmmm, entah kenapa jadi kelu rasanya ketika saya harus menulis kata tentang para bidadari senja. entah, tak mampu saja saya menuliskannya.
beruntung! mungkin itulah saya, ditengah kawan2 yang selama ini selalu mengeluh tentang nasib si jodoh yang tak kunjung datang, padahal hati dan umur sudah beitu mendamba ditambah tanya “kapan” yang selalu meresahkan jiwa…ah lengkaplah sudah. dan saya sudah tak sanggup berkata kata atau menjawab apa lagi karena bukan satu dua kali resah itu berbuah tanya pada saya. sabar…mungkin ini sederhananya. tapi apakah iya cukup ini, iya karena saya tak merasakan sama apa yang seperti mereka rasa. saya ingat saya pernah berkata pada adik kos saya “klo kita manusia diberi mampu untuk melihat lauh mahfudz sana, melihat jodoh kita siapa, maka demi Allah aku akan jemput jodoh para bidadari2 itu”. entah apa yang salah dari mereka, dan takdirpun juga tak ada salah. hanya saya masih kurang paham saja: “kenapa?”…
hati saya ikut saja miris. diamanapun kaki saya berpijak selalu dipertemukan pada bidadari senja itu. entah juga apa yang sedanh Allah skenariokan untuk saya. disuruh bersyukurkah saya ??? karena selama ini jauh rasa syukur itu menemani keseharian saya..na’udzubillah…
dan saya sudah tak sanggup berkata lagi, meski banyak kata yang berjejalan di otak saya…namun tiba2 beku disana.
demi Allah, kalian “cantik”, begitu cantiknya hingga mungkin Allah mencintai kalian untuk dipersuntingkan nanti di surgaNya jika tidak disini, demi Allah kalianlah bidadari dunia itu…atas kesabaran yang begitu hebat serta kesederhanaan yang selalu saja menghias senyum
.
jika tidak di sini pasti di surga nanti…semoga
Diarsipkan di bawah: cerita2
Hmmm, menapaki usia pernikahan yang saya fikir sudah mulai “ tak lagi muda” maka ada hal2 yang harus menjadi sorotan kita bersama (maksudnya berdua). Pada hal2 yang sekiranya tak baik untuk mendidik kita pun pada orang2 di sekitar kita pokoknya untuk semua!. Ada hal2 yang harus kita perbaiki secara “tajam” dan bersifat “harus” kita lakukan agar tak mengulangi kesalahan yang sama, ada hal2 yang sifatnya masih di tengah2 sehingga perlu sedikit “kelonggaran” mengatasinya, juga ada hal2 yang sifatnya tergolong “ringan” tapi tetap saja sebenarnya tak baik sehingga perlu “harus’ diperbaiki kembali. Pun juga termasuk “time schedule” atas pelaksaan perbaikan tersebut ada yang harus (afwan lagi2 harus) sesegera mungkin kita berantas tuntas, ada yang sambil jalan saja. Semua tergantung pada kita memandang hal tersebut. Dan yang paling saya soroti kususon sebagai istri adalah soal kita seringnya (ingat ya yang….bukan lagi jarang atau sekali kali) membuang makanan. Saya tak tahu apa penyebab pastinya . tapi paling tidak setelah melakukan pengamatan selama bertahun tahun (ceile…emang kapan kita nikah sudah bertahun tahun, ketuaan kali…he he he),melakukan penelitian sampai sedetail detailnya (sampai mengorbankan penelitian skripsi he he he), dan juga sampai berpikir extra keras soal kenapa kita sering membuang makanan adalah sebagai berikut:
Pertama: hmmm, apa salah saya yang hidup berdua sehingga kurang jeli menakar “pas”-nya porsi kita berdua makan. Kadang kelebiahan kadang kemepetan. Atau kalau saya rasa pas, kadang malah ga kemakan. Fuihhhh…padahal saya sudah membeli bahan mentahnya pada harga yang paling kecil sekali, yang tak ada harga di bawahnya lagi !
Kedua: masih juga apa salah saya. Yang masih dalam tahap “sinau” masak sehingga masakan saya agak “kurang pas” di lidah. Tapi sejauh ini, si doi enjoy saja dengan rasa masakan saya yang kalau diartikan atau kalau bisa dibilang sebagai bahan pembelaan diri saya maka masakan saya tergolong lumayan dong! He he eh
Ketiga: apa soal si doi, yang kadang makan aja (pas tak tanya) tergantung “mood” oh ya Allah, andai kutahu mood-nya setiap hari agar aku bisa menakar seberapa banyak aku harus memasak dan agar aku tak selalu membuang rezekiMu….ampuni ya Allah.
Keempat: seringnya (yang ini Alhamdulillah loh) tempat kami tercinta tinggal, mendapat kondangan mendadak yang hasilnya adalah pasti makanan atau kalau tidak begitu dari kantor suami juga terjadi hal sama yang ujung2nya adalah rezeki makanan gratis, walhasil masakan saya malah ga tersentuh…jangankan tersentuh, ngelirik saja ndak. Kalah rasa donk, Kalah merek, kalah saing-lah pokoknya. He ehe he
Tapi yang pasti apapun penyebabnya karena kita berdua tinggal serumah dan menjadi suami istri, ini adalah kesalahan fatal yang harus sesegera mungkin diperbaiki(karena keadaan sudah extra gaswatnya). Apapun caranya. Maka mulai saat ini kalau sampai 2 hari kami membuang makanan, saya tidak akan memasak. Entah kita nanti mau makan apa terserah pribadi masing2. Biar nanti kelaparan juga pribadi masing2. Atau kalaupun ada lauk hanya telur saja. Bukannya apa2, hanya kita biar merasa saja bahwa betapa pentingnya rezeki ini, yang sangat sayang ketika orang lain kelaparan lalu kita Cuma dan Cuma membuangnya saja. Dan hukuman ini berlaku selama satu minggu(eiiit ini sih ketetapan saya) atau saat suami mulai bosan dengan lauknya. Maka saya akan mulai (tentunya dengan senang hati ) memasak.
Entah bagi pihak suami senang ketika membeli makanan di luar yang mungkin baginya 100% jauh lebih enak dibanding masakan saya yang “pas-pasan”ini, atau entah dia kelaparan ketika di rumah karena tak ada makanan yang dapat dimakan saat di waktu2 tertentu nafsu makanannya bisa membuat saya “mblenger” duluan hingga tak jadi makan. Apapun itu rasanya , ini harus segera dieksperimenkan. Supaya ada jera (yang ini Alhamdulillah) sehingga tak mengulangi kemubaziran yang sama.
Tapi bagaimana dengan saya? Sungguh demi Allah, apapun rasa masakan saya, bagaimanapaun usaha saya dalam membelinya (yang masih kelas bawah dalam hal membeli sayuran), dan bagaimanapun peluh saya dan harus mendaki gunung lewati lembah (hehehe) saat memasaknya yang pagi2 jam 5 harus memulainya, maka bagi saya memasak sendiri adalah jauh lebih memuaskan. Dari segi rasa(apapun), halal, prosesnya, dan tentu hasilnya (meski kadang tak berbentuk). Dan jujur, ini juga termasuk memberi layanan kepada suami bukan yang menjadi tugas istri juga. Dan yang paling penting juga, saya kadang ga tegaan pada suami, mengingat makannya yang kadang extra lalu tiba2 pulang kerja tidak ada yang dimakan, oh ya Allah…melihat wajah kelaparannya atau tubuh lemasnya…(serem dech!). apapun itu saya berusaha sekuat mungkin untuk tidak membiasakan diri membeli masakan matang di luar. Kalau terpaksa harus dan ingin berganti suasana sekali dua dalam sebulan, yah bolehlah.
Lalu apa iya harus tak ada makanan di rumah seminggu mengingat saya yang tak tega melihat suami ???belum2 saya harus berpikir 10x. tapi, kalau sampai kemubaziran ini terus berlanjut, tanpa ada upaya untuk mengatasi, maka ada rasa dosa karena terus membuang rezekiNya.
Atau ada ide lainnya??? Yang bisa mengatasi kemubaziran ini….
Diarsipkan di bawah: markas hatiQ
Sering saya di rumah sendirian. Terkadang saya protes saja, kenapa suami bisa keluar rumah seharian sedang saya tidak. Atau paling tidak saat suami di rumah dia tidak keburu bobok duluan. Temani saya dulu kek sebentar. Ngobrol apa gitu… tapi terkadang (kalau sedang jadi manusia manis) lihat suami segera tertidur karena lelah saya faham juga sih, dia kan kerja seharian dari pagi sampe sore. Tapi ya itulah, hati saya sering saja protes. Maklum, saya baru bisa bicara dan menemui yang namanya manusia kalau ada suami.
Kesal saja, saat2 saya ingin ditemani ternyata hanya suara dengkurnya saja yang terdengar setia menemani. Hehehe. Tapi, saya jadi ingat istri sahabat saya yang hanya bertemu dengan suaminya seminggu sekali karena kerja si suami yang harus tidur di asrama, membuat saya harus kembali berkaca. Ah, hati saya terlalu banyak protes, menuntut dan tak pandainya bersyukur. Dan jujur saja, saya sebenarnya senang sekali melihat wajah tidur suami saya. Rasanya damai saja di hati. Terbayang kalau tidur itu untuk selamanya, terbayang kalau nafas beratnya tak terdengar lagi, terbayang pula saat dia sudah tak disisi.
Ah… saya begitu kurang pandainya bersyukur. Atas nafasnya, atas jemari2 tangannya yang masih mampu bergerak untuk membelai rambut saya, atas satu suaranya (eit bukan satu tapi banyak suara ding) yang terdengar, ah Allah…atas hal kecil2 itu saja saya lupa karena perkara sepele.
Begitu sederhana sebenarnya celah untuk kita selalu dapat bersyukur, namun sayang karena terlalu sederhana itu pula kadang kita lupa atau bahkan tak melihat., semoga Allah masih menajamkan rasa di hati kita, melihat yang kecil2, mensyukuri nikmatNYA yang tanpa batas. Amien…
Diarsipkan di bawah: sebuah masa (kenangan)
Ini adalah kejadian waktu saya masih “I’m single I’m very happy”alis jomblo, waktu masih dapat julukan anak kos, waktu masih suka “cuci mata” bareng teman2, waktu masih bebas untuk piknik kesana kemari, waktu masih teriak2 gitu…, dan waktu masih harus jadi orang yang super irit. Maklum anak kos
. Pokoknya waktu masih jadul- jadul gitoeh J.
Saya adalah tipe orang yang segala sesuatunya serba teratur dan terencana, termasuk pula soal uang. Didikan ortu mungkin juga mempengaruhi saya. Waktu masih SMP, ortu memberi saya uang Rp 1500 untuk jajan seminggu, SMA uang jajan dan jalan saya Rp. 100 ribu sebulan membuat saya jadi orang yang extra hati2 dalam masalah keuangan (mungkin ini pula yang membuat saya dulu masuk jurusan IPS, ya tentu disamping hal2 lainlah yaw…). Saya selalu buat aturan sendiri agar uang itu bisa saya buat untuk beli misalnya handbody, yang seringnya harus keluar dari uang saku itu. Walhasil saya tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di kantin sekolah. Mana letak kantinnya saja saya baru tahu kelas 3-nya. Kadang lapar juga sih sekaligus kepengen (kalau tidak ditragiskan ke dalam “ngiler”) liat teman2 makan dengan bebasnya. Sedang saya untuk makan satu gorengan saja yang harganya Cuma 200 perak harus mikir tujuh turunan dulu. Karena kalau sekali saya jajan, maka bisa dipastikan kebutuhan saya yang lain akan tak terpenuhi. Rupanya saat SMA hal itu terulang lagi. Jangan dikira ya uang 100 ribu itu bersih buat saku, bayangkan saja, semua itu dipotong 80 ribu bersih untuk bayar ongkos jalan, sedang sisanya yang 20 ribu bersih untuk jajan sebulan. Jaman saya yang lagi pengen2nya, lagi cari identitas diri uang 20 ribu sungguh berat sekali. Ditambah pula berangkat pagi2 yang membuat saya tak sempat sarapan dan karena harus super itinya hingga pernah mengurungkan niat membeli roti yang harganya 500 perak, membuat saya harus mundur ke belakang saat upacara pembukaan pramuka, alias mau pingsan. Hehehe. Bahkan menginjakkan kaki di kantin sekolah saja baru kelas dua. Itu saja setelah mengalami perenungan yang sangat panjang hingga akhirnya saya membeli sebungkus roti saja. Dan tahukah betapa keliahtan “ndeso”nya saya di kantin, ga tau mana penjualnya padahal hampir semua teman saya kenal akrab dengan si ibu kantin yang belakangan saya tahu namanya mbak dar. Hahaha. Alhamdulillah saya membiasakan diri membawa air putih sendiri, yah kalo lapar pasti saya minum sebanyak- banyaknya
. Tapi kalo SMA beda lagi kenapa saya harus irit, karena 2 hal, buku/majalah dan jilbab. Hehehe, kalau soal baju saya sih selalu langganan pinjam ibu atau mbak nurul atau kadang setengah memaksanya menjadi “hak milik” saya atau kadang saya berburu di alamri mbak nurul lalu yah saya pake kan biasanya langsung jadi milik saya
, tapi klau urusan jilbab jelas seleranya beda, beda ukuran, warna, bentuk dan harga. Mbak nurul lebih suka jilbab yang ringan, agak kecil, dan warna yang kalem beda dengan saya yang suka warna agak “ngejreng”, agak lebar dan tebal. Dan tahukah bahwa jlbab seperti itu waktu jaman SMA saya masih menjadi barang langkanya di kota ngawi tercinta. Walhasil harganya bisa mencapai 30ribu lebih (dan belakangan saat saya kuliah di solo, saya jadi orang yang rasanya begitu “nggumunan” melihat harga jilbab disana yang 30 ribu saja bisa dapat 2, dengan kualitas yang super bagus). Jadi saya yang waktu itu, harus benar2 ngirit sekali, ditambah kewajiban harus membeli minimal satu buku satu bulan biarpun itu berbentuk majalah, yang harganya yah kurang lebih 6 ribu. Jadi bertambahlah pula kebutuhan yang harus saya penuhi waktu itu. Oh ya saya sejak SMP juga sudah mewajibkan diri untuk memotong uang saku itu yang sebagian saya hitung 2,5% untuk amal hari jumat. Semampunyalah.
Tapi “kemiskinan” uang saku itu tidak berlangsung lama. Saat saya sudah memasuki dunia kuliah, roda perekonomian itu sudah berangsur membaik. Maka saya yang pulang setiap dua minggu sekali itu mendapat jatah 100ribu. Itu sudah jadi uang besar buat saya. Dari ongkos jalan yang relative murah karena dekat(juga memanfaatkan kartu langganan bus yang lumayan diskonnya), dari biaya makan yang sangat murah juga, dari kos yang hanya 40 ribu sebulan, dari semua biaya yang tergolong murah waktu itu, maka ada banyak alokasi uang yang bisa saya gunakan untuk kebutuhan lain. Walhasil, nafsu untuk membeli buku dan jilbab itupun semakin gila2an juga. Tapi ada rem-nya kok. Sehngga saya masih bisa sesekali menabung yang telah sekian lama saya hanya menabung setiap setahun sekali waktu hari raya saja (kan dapat “sangu” dari para sodar2 J). Ini di solo.
Lain lagi saat saya harus pindah di jogja, semakin jarang saya pulang maka semakin gede pula jatah saya. 500 ribu perbulan. Di jogja yang dimana mana ada toko buku membuat saya jadi “kesurupan”. Hingga uang yang seharusnya lebih besar alokasinya unutk menabung atau beramal malah tidak ada lagi jatah unutk menabung dan sedikit saja untuk amal. Sampai2 pernah saat saya mau pulang yang kebetulan mampir di toko buku tidak mengukur dana yang terbatas sampai harus tidak bisa pulang kampong. Karena uangnya tidak sampai ke ngawi. Parahnya…..hingga saya harus mengakalinya, motoran (yang waktu itu bensinnya juga mepet) ke klaten, menitipkan motor di tempat mbah, lalu dari klaten ternyata uang saya juga hanya cukup sampai di ngawi bagian kota saja(ini saja setelah mencari sampai di pelosok saku dan dompet unutk mengumpulkan uang 100-an perak). Oh alhamdulillahnya ada rumah kakak saya disana, sehingga saya pinjam uang yang waktu itu hanya kurang 5 ribu saja untuk samapi rumah.
Hingga pada akhirnya Allah sedikit menegur. Waktu saya mau kembali ke jogja, disamping saya duduk simbah2. Lalu ada pengamen masuk. Si simbah dengan ringannya memberi uang seribuan (yang sampai sekarang merupakan uang langka untuk diberikan pada pengamen ) sedangkan saya , hmmm Cuma 100 perak ! yah, saya waktu itu sadar. Betapa perhitungannya saya, pelitnya saya. Sehingga ada kesempitan rezeki yang terjadi. Seharusnya ada lebih banyak yang diberi untuk saudra2 yang lain tapi malah saya gunakan unutk memuaskan “nafsu” buku saya, yang tanpa ukuran. Ah…Allah masih menegur berarti Allah masih sangat sayangnya pada saya makhluk yang penuh khilaf ini.
I LOVE U ALLAH
Diarsipkan di bawah: catatan hati kami
Tak perlu setinggi langit
Kadang aku ingin seperti angin, mnegehembuskan kesejukan pada penatnya fikirmu
Kadang pula aku ingin seperti petir, kuat menghentak, menyalakkan sinar menakutkan saat kau disakiti, berharap melindungi
Kadang aku juga ingin seperti hujan, membasahi dahaga hatimu, agar tak kering disana
Atau kadang aku juga ingin menjadi seperti jalan lurus nan mulus, yang bisa kau lalui tanpa aral melintang mengahadangmu
Dan kadang aku ingin menjadi apapun itu, siapapun yang kau mau, Agar akulah yang pertama disisimu, ada saat kau menutup mata pun ada saat kau membukanya.
Menjadi yang pertama ada… Berlebihankah bila aku menjadi semuanya??? Karena aku tak pernah tahu apa yang menjadi inginmu, apa yang menjadi risaumu, apa yang menjadi sedihmu, apa yang menjadi susahmu dan apapula yang menjadi segala macam warna yang kau rasa…detik ini, menit ini ataupun jam ini…pada waktu- waktu yang kau lalui. Yang aku tak ada disana atau ada namun tak merasa??? Ah bodohnya…
Berlebihankah menjadi semua??? Menatap jauh keatas, di ketinggian langit sana …
Tapi tahukah …aku ingin menatap jauh pada apa yang ada padaku, bukan menjadi manusia- manusia suci, tapi bukan pula yang berlumur dosa. Tapi berusaha sempurna menjadi bidadarimu. Pada apa yang telah Allah beri padaku, sambil terus berusaha menjadi sempurna. Karena aku tetap ingin menjadi bidadarimu. Pun karena aku lelah menatap ketinggian sana…
Aku……….emmmmmm………tak perlu setinggi langit bukan sayang …??? ((kan capek….hehehehe))
((sorogenen di pagi hari, 08:10, 20:05:2009))
Diarsipkan di bawah: harapan itu masih ada kawan !
coba apa yang anda rasa dan bayangkan jika mendapat sms seperti ini (dari siapapun orangnya): ukhti klihatane bakate jadi penulis…..bla bla bla…yakin kelak ga lama lagi pean jadi penulis best seller…
sms ini saya baca pas bangun tidur sekitar pukul tiga-an. saya yang masih setengah ngantuk, hampir saja nangis klo ga keduluan kaget. ada semacam dorongan kuat yang membuat saya melambungkan angan. yah, bermimpi. saya lupa melakukannya pasca 8 bulan lalu. saya lupa saya sampai di jogja pun berawal adri mimpi. saya benar2 lupa “tradisi ini”. mimpi !!! sepele memang. tapi cobalah anda lakukan sederhana saja. sejak sekarang enath untuk sebulan ke depan, setahun, atau 10 tahun. anda akan merasakan bahwa mimpi itu akan mengarahkan hidup anda pada sesuatu yang punya ruh. visi atau misi, hampir semacam itu. saya masih ingat ketika saya harus memilih jogja setahun silam saya mulai menulis dan bermimpi bahwa selama kuliah disini (2tahun , klo ga lebih he he he) saya harus sudah KKN (kuliah , kerja , nikah)dan alhamdulillah saya kuliah, saya pernah dimintai bantuan teman , dan saya menikah. sayapun ingta bersama trio jomblo kami punya target wisuda adalah batas akhir kita punya pasangan. saya tak tahu apakah teman2 waktu itu hanya bercanda atau sekedar ngompori tapi bagi saya itu adalah energi untuk bermimpi (dan alhamdulillah sekarang ada hero disamping hidup ini).
pun saya yakin, si kawan pengirim sms ini tidak sengaja menuliskannya, tapi subhanallah, dialah kawan yang padanya tak pernah ada kata salah atas setiap tindakanku, tak pernah ada tawa sinis setiap kata2ku dan mimpi2ku, selalu kata “aku mendukungmu ukhti” atau kata “ya sama2 ukhti kudoakan” dan semacam itu. pun ketika yang lain mentertawakan pilihanku dia tidak. dia manusia pertama.
bermimpilah juga kawan, yang tinggi. klo mita syurga mintalah firdaus yang tinggi.
Diarsipkan di bawah: catatan hati kami
sadarkah kau suamiku, aku adalah istrimu
dan sadarkah aku, kau adalah suamiku
Diarsipkan di bawah: markas hatiQ
adil itu seperti apa ???
rasanya bagaimana???
gimana bisa adil???
Diarsipkan di bawah: harapan itu masih ada kawan !
hanya soal memilih kawan, mencintai orang yang kau nikahi ATAUKAH menikahi orang yang kau cintai ??? lalu istiqomah. hanya itu. soal ikhlas biarlah jadi perjuangan tersendiri. karena cinta selalu butuh pengorbanan (atau kalau kita korban) dan karena kata korban itulah ada luka. tinggal engkau memilih ingin seperti apa luka itu dihilangkan atau disembuhkan atau dibiarkan nanti akan hilang atau dipelihara lalu membusuk. i love u kawan
atas segala kegelisahanmu dan sedikit tanggapan “galakku” ((he he he afwan ya cinta….))